rss search

Terteran ( Perang Api )

line

Tradisi perang api di desa JasriSelain tradisi gebug Ende atau perang rotan di Desa Seraya Kabupaten Karangasem, perang pandan di Tenganan, satu lagi tradisi unik di Kabupaten Karangasem, kabupaten yang terletak paling ujung Pulau Bali ini, tepatnya di Desa Jasri,  di rayakan setiap 2 tahun sekali, di tahun ganjil saat pengrupukan, tawur kesange, sehari sebelum Nyepi, tradisi tersebut adalah perang api atau disebut juga terteran (ter-teran). Aksi saling serang/ lempar-lemparan dengan api ini. Perang api ini menggunakan obor prakpak/bobok (daun kelapa kering yang diikat), ditengah-tengah daun kelapa diisi dengan tongkat/ kayu kecil, agar jangkauan lemparan bisa lebih jauh dan kuat, kemudian disulut/ dinyalakan digunakan dan dilempar saling sering sehingga mengeluarkan bunyi ter-ter, sehingga dinamakan ter-teran.

Tradisi Ter-teran digelar juga sehubungan dengan upacara ngusabe di Pura Dalem, atau disebut juga Aci Muu-muu. Perang api ini digelar saat hari menjelang malam sekitar pukul 18.00, listrik dipadamkan yang ada adalah cahaya obor, digelar di jalan raya Amlapura – Denpasar, arus jalan ditutup sekitar 3 jam, dialihkan ke rute lain. Perang ini adalah rentetan upacara tawur kesanga, di saat ada komanda bahwa Ida Batara sudah mantuk (kembali) dari prosesi pecaruan di pantai Jasri, para pemuda mulai menyalakan obor, dan petugas lainnya membunyikan kentongan bertalu-talu sebagai tanda Ida Batara sudah kembali. Saat para rombongan, prajuru, pemundut (pengosong) pratima (simbol Ida Batara) tiba, dipendak (disambut) dengan ratusan lemparan obor yang menyala, anehnya tidak ada yang kena, walaupun ada yang kena tidak akan kepanasan apalagi terbakar, aneh dan unik. Perjalanan para pemundut dilanjutkan ke Pura Puseh.

Para peserta ter-teran bukan sampai disitu saja. Warga akan mimisahkan diri menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok utara balai banjar dan yang menjadi lawannya kelompok selatan balai banjar, pergelaran/ pemain hanya untuk kaum laki-laki baik tua maupun muda, tidak memakai baju. Begitu ada tanda perang dimulai, obor berseliweran dan berusaha saling serang, tak peduli itu tetangga ataupun saudara. Penonton bersoarak-sorai memberikut support kepada pemain. Walaupun dalam adegan perang ini ada yang kena api, tapi warga Jasri yang melakukan tradisi ter-teran ini tetap semangat. Perang ini berlangsung sekitar 1 jam, seiring berangsur-angsur padamnya api obor. Tradisi ini menjadi tontonan yang menarik bagi warga sekitar, juga oleh para pelancong yang sedang liburan dan wisata di Bali.